Selama bulan Mei – Juni 2019, Gema Alam NTB yang tergabung dalam Konsorsium ADARA bersama LBH APIK dan Koalisi Perempuan Indonesia melakukan kajian intensitas resiko dan kerentanan pasar pada sector tenun yang sasaran utamanya adalah para perempuan penenun di desa Pringgasela Selatan Kecamatan Pringgasela. Adapun sample dalam kajian ini adalah 25 orang penenun yang akan diwawancarai baik yang menggunakan pewarna alam maupun pewarna sintetis yang tergabung di dalam kelompok nine penenun (KNP) maupun yang yang tidak tergabung dalam kelompok.

Ada dua aspek yang digali dalam wawancara ini adalah terkait dengan resiko yang meliputi tingkat kedisiplinan, harga, produk, tempat menenun, promosi produk, kesehatan penenun, kondisi alam (cuaca & iklim) peralatan/teknologi, akses terhadap modal, akses terhadap pelatihan, akses terhadap pasar, kerjasama dengan pihak lain dan aspek kerentanan pasar yang meliputi fluktuasi harga, infrastruktur, sarana transportasi, pemanfaatan hasil tenun bagi perempuan dan peningkatan kesejahteraan keluarga, adaptasi system pasar tenun yang adil bagi perempuan dan akses dan kotrol terhadap hasil penjualan produk tenun.

Dari hasil wawancara ini, ternyata masih belum berpihak pada para perempuan penenun, diantaranya didapatakan informasi terkait dengan modal untuk pengembangan usaha tenun masih belum menyentuh secara keseluruhan para penenun, akses terhadap pasar yang layak juga masih belum dirasakan oleh para penenun, penjualannya masih dari memenuhi pesanan konsumen, itupun tidak setiap saat ada. Setelah proses wawancara ini selesai dilanjutkan dengan diskusi dalam sebuah forum kecil yang menghadirkan semua pihak di desa, mulai dari pemerintah desa, BPD, kepala dusun, pelaku wisata, penenun dan pemilik artshop. Dalam forum diskusi ini disampaikan tentang kajian kerentanan di sector tenun, mulai dari proses menenun, kondisi cuaca, ketersediaan air yang mempengaruhi kelompok penenun. Dalam forum ini mendiskusikan masalah atau bahaya yang paling berpengaruh terhadap aktivitas menenun. Dari hasil diskusi terungkap bahwa hal – hal yang mempengaruhi aktivitas menenun yaitu bencana (Gempa),  upacara adat dan keagamaan (begawe, puasa, kematian/meninggal dunia, menjelang lebaran, acara 17 Agustusan, faktor reproduksi dan kekerasan dalam rumah tangga.

  

Adapun resiko yang paling sering dihadapi oleh penenun adalah rabun, katarak, sakit pinggang, sakit punggung dan sakit kaki. Permintaan pasar dalam dan luar negeri bagus, tetapi pasca gempa permintaan turun sampai 45%. Pemasaran tenun ke luar negeri 4 – 5 kali order/tahun. Satu kali order mencampai 500 – 600 buah. Order paling besar  dari Australia mencapai 80%. Untuk pasar dalam negeri di KNP berasal dari Jogja yaitu mencapai 40 – 50 % sedangkan di Artshop terbanyak berasal dari Bali mencapai 40 – 50 % juga. Saat ini ada dua jalur pemasaran tenun yang sudah ada yaitu melalui KNP dan Artshop. Namun yang menjadi persoalan yang dihadapi oleh para penenun yaitu tidak ada kesepakatan standar kualitas dan standar harga bagi penenun. Untuk itu, perlu pelatihan/pembinaan dari instansi pemerintah dan swasta bagi para penenun supaya kualitas dan standar harga menjadi setara yang dapat memberikan keadilan bagi para penenun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *